Recent Posts

Budaya Kepepet

Segenggam beras ditangan kemudian ditelan dan dilanjutkan meminum segelas air putih hangat lalu berujar "biar mateng di perut"

waktu itu masih duduk dibangku SMA dan berkunjung ke-kos2-an seorang mahasiswa di ibukota propinsi, melihat aksi tersebut, "nekat ni orang"

pengalaman itu masih saja teringat sampai pada akhirnya ketemu jawabanya, ada beberapa alsan mengapa hal itu nekat dilakukan:
- biar ngirit
- malas menanak
- ga ada duit
- menguji ilmu kanuragan dan daya tahan tubuh
- waktu yang sempit

mungkin hal itu masih menjadi sesuatu hal yang aneh, tapi ketika berada pada posisi demikian hal itu menjadi hal yang wajar, biasa, dan tidak ada yang menyimpang

beda halnya jika menjadi perantau yang ngekos dengan uang bulanan dari orang tua 2juta perbulan, makmur dan sejahtera, tapi sudahlah ga usah di gosipin

jika uang bulanan cuma 300-600 ribu perbulan, pasti menimbulkan banyak cerita konyol, awal bulan bisa tertawa lebar, pertengahan sampai akhir bulan nyengirr berkepanjangan

ada manfaatnya juga, "lawan keterbatasan" pembelaanya, untuk menghadapi kebutuhan dan keinginan yang membludak kudu kreative, perkara dicap aneh dan tidak tau malu itu karena mereka berada pada posisi sejahtera dan makmur

jangan pula heran ketika pada bulan romadhon banyak masjid yang dipenuhi oleh mahasiswa rantau "lumayan berbuka gratis"

atau pada enjuritime bulan, rumah teman yang asli daerah banyak mendapat kunjungan...selain silatuh-rahmi juga menjadi urusan perut

"maaf ibu kos bulan ini saya belum bisa bayar kos apalagi bulan depan"
sepenggal lirik lagu dari P-PROJECT

atau

"mahasiswa rantau, makan tak teratur"
sepenggal lirik lagu (lupa sipa yang nyanyi)

ditengah kebutuhan untuk ngenet, rokok, ngopi, gaul, cari 3gp, beli galon, ngangkring, makan mlam di burjo dan sebagainya tentu ini seni menjadi mandiri

0 Comments:

Posting Komentar